Asal Usul Gambuh Pedungan

  • 01 Januari 2017
  • Oleh: Pedungan
  • Dibaca: 566 Pengunjung
Asal Usul Gambuh Pedungan

Untuk menyebutkan scara pasti kapan berdirinya sekaa Gambuh di Desa Pedungan, sungguh sangat sulit. Hal ini disebabkan oleh sedkitnya sumber data yang dapat dijadikan bahan dalam menelusuri asal mula ksenian ini. Namun demikian, setelah penulis mendatangi atau menjumpai beberapa informan yang penulis sangat tahu tentang Gambuh ini, maka akhirnya asal mula Gambuh ini dapat penulis teliti dengan bantuan beberapa orang yang dapat dihubungi oleh penulis antara lain:

I Gede Geruh, seorang tokoh dan penari Gambuh yang saat ini telah berusia 76 tahun mengungkapkan bahwa, Gambuh yang beliau warisi hingga dewasa ini adalah juga warisan dari kakek-kakeknya yang hidup sekitar tahun 1836 atau boleh dikatakan jauh sebelum perang Puputan Badung. Kakeknya adalah termasuk salah satu tokoh seni di Desa Pedungan, yang kemudian menjadi penari Gambuh Duwe Puri Pemecutan. Selain menjadi penari milik puri, lalu di Desanya sendiri kakeknya telah berhasil merintis sekaa Gambuh bersama kawan-kawannya yang berasal dari beberapa Banjar di Desa Pedungan dan dari luar Desa Pedungan. Pada masa berurutan, di Desa Sesetan pernah pula dibentuk sebuah sekaa Gambuh yang berasal dari penari-penari Gambuh Duwe Puri Denpasar.

Dekatnya jarak antara Desa Pedungn dengan Desa Sesetan adalah menyebabkan baiknya komunikasi atau hubungan antara kadus sekaa Gambuh ini, sehingga sering terjadi pinjam meminjam alat-alat Gambelan atau perlengkapan lainnya. Setelah meletusnya perang habis-habisan melawan Belanda (Puputan Badung), para penari-penari Gambuh dari Pedungan menghimpun dan menyempurnakan kembali sekaa Gambuhnya, dan akhirnya terbentuklah sekaa Gambuh seperti yang di warisi hingga dewasa ini. Dalam perjalanan hidup sekaa Gambuh di Pedungan ini, banyak pasang surut yang telah dilaluinya. Pada tahun 1930 an Gambuh ini pernah mengalami masa yang sangat gemerlang, dan seringkali mengadakan pementasan ke luar Daerah Kabupaten Badung, antara lain ke Karangasem, Singaraja, beberapa orang yang pernah menjadi pelatih Gambuh di Desa Pedungan ini yakni:

1.     I Wayan Nyongolan (almarhum) dari Banjar Puseh Pedungan.

2.     Gusti Gede Candu (almarhum) dari Banjar Geladag Pedungan.

3.     I Wayan Dunia (almarhum) dari Banjar Gelogor Denpasar.

Pada dewasa ini yang bertindak sebagai pelatih Gambuh di Desa Pedungan adalah I Gede Geruh sendiri menangani dalam bidang tari, dan I Nyoman Lemping sebagai pelatih tabuhnya.

 Perkembangannya yaitu Berkembangan suatu seni pertunjukan yang tidak bisa dilepaskan dengan masyarakatnya sendiri, sebab masyarakat merupakan pendukung utama dan tempat hidupnya seni pertunjukan itu.

Agar seni pertunjukan itu dapat berkembang baik, harus ada kerja sama yang baik dari semua pihak dalam hal ini; . Pengayon dari Pemerintah,. Penggarapan dari kaum seniman itu sendiri, Apresiasi dari masyarakat penghayatnya.

Akan halnya perkembangan Gambuh di Desa Pedungan merupakan dramatari klasik Bali, nampak mengalami perkembangan yang secara perlahan menurun sejak tahun 1950 hingga menjelang tahun 1960 an. Berdirinya Lembaga Pendidikan Seni Tari di Bali (ASTI) pada tahun1966 nampaknya merupakan upaya Pemerintah untuk melestarikan Gambuh ini, dengan menjadikan kesenian ini sebagai bahan pelajaran. Diangkatnya beberapa tokoh Gambuh di Pedungan yakni I Gede Geruh, I Nyoman Lemping Cs sebagai tenaga Dosen luar biasa dalam mata kuliah praktek tari dan karawaritan Gambuh, nampaknya sempat pula menjadikan suatu rangsangan untuk bangkitnya sekaa Gambuh di Desa Pedungan ini.

Lebih lebih dengan berhasilnya pementasan Gambuh oleh Mahasiswa ASTI Denpasar yang diperkuat oleh sekaa Gambuh dari Pedungan, di Jaba Puri Satriya pada tahun 1967 merupakan suatu tantangan bagi sekaa- sekaa Gambuh di Bali umumnya dan di Desa Pedungan khususnya. Dalam kurun waktu yang tidak panjang, maka Gambuh di Pedungan akhirny pernah bangkit dai tahun 1968 hingga tahun 1970.

Sejak tahun 1970 ini hingga sekarang, Gambuh di Desa Pedungan keadaannya sangat memprihatinkan. Sekaa Gambuh yang pada mulanya memiliki struktur pertunjukkan yang lengkap ternyata pada dewasa ini tidak banyak memiliki kader-kader penari, dan instrument pengiringnya telah semakin banyak rusak  atau upacara di Pura Puseh, Gambuh ini hanya dapat dipentaskan dengan penari seadanya dan gambelan yang tidak lengkap. Ada beberapa hal yang menjadi factor penyebab diancamnya Gmbuh Pedungan oleh kepunahan yaitu:

1.     Kurangnya minat masyarakat setempat terhadap Gambuh yang dianggap sudah tidak menarik lagi dan sulit untuk dimengerti oleh kaum muda khususnya. Dengan demikian, masyarakat dewasa ini lebih banyak mengarahkan perhatiannya terhadap hiburan lain yang lebih disukai.

2.     Kurangnya perhatian kalangan tokoh-tokoh tua tehadap pmbentukan kader-kader penabuh dan penari yang mungkin sekali bisa mempercepat punahnya Gambuh di Pedungan ini.

Struktur organisasi sekaa Gambuh hingga kini tetap merupakan sekaa yang diayomi oleh dua banjar yakni banjar Puseh dan banjar Menesa, namun dari pihak banjar sendiri dapat memberikan suatu perhatian dan dana di dalam usaha untuk melestarikan Gambuh ini. Akibatnya bagi mereka yang memang betul-betul mencintai kesenian ini merasa dirugikan.
 

#Demikian Kutipan Artikel mengenai Gambuh Desa Pedungan,(BAY)


  • 01 Januari 2017
  • Oleh: Pedungan
  • Dibaca: 566 Pengunjung

Artikel Terkait Lainnya

Anak Agung Gede Oka, SE

Apakah Informasi yang tersaji pada Website Kelurahan Pedungan?